Banjir Bisa Bikin Anak Trauma? Begini Seharusnya Orang Tua Bersikap

trauma pada anak
trauma pada anak pasca bencana (ilustrasi)

Terkini.id, Masamba –Bukan hanya orang dewasa, seorang anak yang melihat atau mengalami sebuah peristiwa, lalu berdampak pada respon emosionalnya, bisa dikatakan mengalami trauma. Trauma pada anak yang tidak diatasi bisa berujung pada PTSD. Apa itu PTSD pada anak?

PTSD adalah posttraumatic stress disorder, ini adalah gangguan psikologis yang terjadi setelah anak mengalami atau menyaksikan peristiwa yang tidak menyenangkan, yaitu trauma.

Contoh, trauma pada anak yang bisa berubah menjadi PTSD bisa disebabkan oleh peristiwa seperti adanya bencana, misalnya banjir bandang yang terjadi di Masamba, lalu kecelakaan, kekerasan, atau meninggalnya seseorang yang punya hubungan dekat dengan anak.

Namun perlu diketahui, bahwa tidak semua trauma pada anak menyebabkan PTSD. Bagaimanapun, setiap anak punya faktor-faktor yang membuat ia mampu untuk menghadapi trauma.Misalnya dengan dukungan lingkungan sosial yang baik, anak mampu mengelola emosinya, dan konsep diri yang baik.

Setiap peristiwa yang terjadi pada anak juga punya dampak yang berbeda-beda. Ada beberapa ciri-ciri PTSD akibat trauma yang dapat orang tua perhatikan pada anak setelah ia mengalami peristiwa traumatis:

  • Anak mengalami tekanan berulang tentang peristiwa itu. Misalnya anak jadi suka bermain tentang kecelakaan yang ia lihat, atau anak mengakui bahwa ia memikirkan hal itu terus menerus
  • Anak bermimpi buruk dan berhubungan dengan peristiwa itu
  • Anak mengulang kembali reaksi saat peristiwa itu terjadi, misalnya takut, teriak, menangis
  • Anak menghindari apapun yang mengingatkan tentang peristiwa itu, misalnya kecelakaan menghindari mobil
  • Anak sulit konsentrasi pada suatu hal
  • Anak jadi mudah terkejut

Ada beberapa hal yang dapat orangtua lakukan untuk mencegah trauma peristiwa pada anak tidak sampai menyebabkan PTSD. Berikut aksi yang bisa dilakukan para orang tua dilansirHello Sehat:

1. Orang tua dapat menanyakan apa yang anak pikirkan, apa yang ia lihat, dan apa yang mereka rasakan setelah melihat peristiwa traumatis tersebut.

2. Orang tua bisa membiarkan anak untuk mengungkapkan perasaan mereka sembari didengarkan baik-baik. Bila anak sulit mengungkapkan dengan cerita langsung, Anda dapat mengetahui perasaannya lewat cara lain.
Misalnya seperti saat ia menggambar dan coba cari tahu apa ia ceritakan tentang apa yang digambarnya. Lalu, saat anak bermain boneka, orangtua juga dapat menanyakan apa yang bonekanya sedang lakukan. Dengan cara ini, orangtua dapat mengetahui isi perasaan anak

3. Anak yang khususnya usia di bawah 6 tahun, biasanya lebih mudah mengungkapkan perasaannya dengan ada simbol-simbol dari apa yang mereka gambar dan boneka yang mereka mainkan.

4. Orang tua juga dapat bantu menciptakan rasa aman pada diri mereka. Misalnya dengan mengatakan “Tenang ya adik, di sini ada Ayah dan Ibu yang menjaga kamu, kamu aman sekarang”. Anda juga bisa memberikan pelukan hangat atau membelai lembut anak untuk menambah rasa aman pada mereka.

5. Setelah itu, orangtua bisa mengajak anak kembali ke rutinitasnya. Bila sudah melakukan langkah-langkah di atas dan masih ada perilaku yang membuat ortu khawatir, segera bawa buah hati ke psikolog anak.

Apa yang akan terjadi apabilatraumadan PTSD anak dibiarkan begitu saja?
Trauma berujung PTSD pada anak yang tidak diatasi akan memberikan dampak negatif. Misalnya, dapat memunculkan perilaku-perilaku negatif seperti kecemasan dan ketakutan berlebihan pada mereka.

Anak juga bisa jadi murung, menarik diri, dan sulit konsentrasi pada pelajar. Hal-hal tersebut dapat berdampak pada prestasi belajar, beradaptasi dengan teman, dan sikap anak ke depan nanti.

Pengobatan atau metode apa yang bisa dilakukan untuk mengatasi trauma anak?
Pengobatan trauma PTSD pada anak bisa diberikan melalui terapi, Terapi bisa diberikan tergantung keadaan anak, beberapa terapi untuk anak adalah play therapy, art therapy, atau cognitive behavior therapy. Konsultasikan dan periksakan kondisi si kecil pada psikolog anak untuk mendapatkan perawatan yang terbaik.

Sumber:
https://www.suara.com/

Konten Bersponsor

Berita lainnya

Virus Corona Bisa Bertahan Lama, Lindungi Diri Dengan Melakukan 4 Langkah Ini!

Apa Sebenarnya Isi Surat Terbuka Para Tenaga Medis ke Presiden Jokowi?

Mengaku Salah Posting, CDC Perbaharui Panduan Tentang Penularan Virus Corona Covid-19

Hindari Hal Ini Karena Covid-19 Menyebar Lebih Mudah Dari Dugaan Kita

Komentar

Laporkan Tulisan

Kami akan menggunakan masukan Anda untuk mempelajari ketika sesuatu tidak benar